Newest Info

Berita, info dan pengumuman terbaru berkaitan dengan perkembangan teknologi

Riska Fadilla — UI Designer, Traveloka

03 September 2017 | Dwinawan Hariwijaya via medium
post image

Riska adalah UI Designer di salah satu startup di Indonesia, Traveloka. Ia mendesain produk produk Traveloka baik itu website maupun app dan merancang sedemikian rupa sehingga orang orang dapat menggunakan produk tersebut dengan mudah. Yuk, mari kita simak cerita Riska bagaimana ia menjadi UI/UX Designer dan bagaimana proses belajarnya. Halo, Lagi sibuk eksplor workout studio di Jakarta ????. Buat mengatasi kebosanan olahraga di gym saya senang gonta-ganti tempat olahraga, tiap weekend biasa coba tempat baru yang dipesan di GuavaPass. Selain buat olahraga, tujuan lainnya untuk memperluas pertemanan dan wawasan karena terasa sulit mencari teman baru di usia segini (padahal masih 24 ????) Awal mulanya saya terjun ke dunia UI/UX bisa dibilang karena personal branding yang berhasil :D. Saya dulu kuliah di jurusan Computer Science. Semasa kuliah saya senang membaca artikel-artikel tentang design dan selalu saya share lewat Twitter. Teman-teman pun mengira saya mengerti design (padahal cuma baca artikel aja lho) dan karena itu saya ditawari bekerja part time sebagai UI/UX Designer di sebuah startup di Depok. Terdengar gampang karena di tahun itu (2012) UI/UX belum se-hype sekarang, belum banyak yang paham apa itu UI dan UX. Pekerjaan inilah yang menjadi titik awal saya ikut kegiatan-kegiatan lain berbau design, seperti ikut lomba dan konferensi tentang design. Setelah lulus, saya memutuskan untuk bergabung ke Traveloka sampai sekarang. Workspace Riska di Traveloka Awalnya karena kagum dan penasaran dengan produk-produk Apple. Kenapa produknya bisa sesukses itu, padahal harganya relatif mahal dan kalau dari sisi teknologi juga banyak produk lain yang lebih canggih. Ada banyak tentunya, mengingat saya benar-benar buta di bidang tersebut. Kebingungan yang paling terasa adalah banyak sekali hal yang harus dipelajari dan tidak tahu harus mulai dari mana. Mulai dari banyaknya artikel seperti “XX books every designer should read, how to be a great designer, XX lessons all designer should learn” dan lain-lain. Salah satu cara untuk belajar adalah menuliskan semua skill yang dibutuhkan dan membuat daftar prioritas mana yang harus terlebih dahulu untuk dipelajari. Di dunia design kita kenal istilah progressive disclosure, berikan informasi secara sekuensial (bertahap) dan relevan supaya user tidak overwhelmed. Jika diterapkan ke cara belajar, pelajari skill-skill yang bisa langsung dipraktikkan dan relevan dengan kebutuhan saat itu. Misal, project untuk suatu app mempunyai alur yang kompleks dan akan lebih mudah dijelaskan menggunakan prototype hi-fi. Maka inilah saat yang tepat untuk belajar skill prototyping dan mengeksplor prototyping tools yang ada, kapan saat yang tepat menggunakan Principle, InVision, Marvel, Framer,…. IndonesiaIT 2017, [...], Artikel ini di ambil dari feed medium, untuk pengalaman baca yang lebih baik, silahkan kunjungi situ aslinya. IndonesiaIT - Software Developer Terbaik. Baca Selengkapnya.