Newest Info

Berita, info dan pengumuman terbaru berkaitan dengan perkembangan teknologi

Menjadi Designer Produk Digital–Berpikir Kritis

26 Februari 2019 | Thomas Budiman via medium
post image

Sumber gambar Masih melanjutkan seri Menjadi Designer Produk Digital, saya berterima kasih atas tanggapan-tanggapan yang positif untuk seri tulisan saya ini. Saya menjadi semangat untuk membagikan apa yang menjadi isi pikiran saya. Pada sesi tanya jawab di sebuah internal talk yang saya bawakan untuk suatu tim desain, seseorang bertanya kepada saya, “Apa sajakah Golden Rules yang bisa diterapkan saat mendesain User Interface?” Sudah cukup lama saya tidak mendengar istilah Golden Rules atau yang berarti aturan-aturan dasar yang sebaiknya untuk selalu diikuti saat melakukan/membuat/mendesain sesuatu. Saya menjawab, “Saya tidak selalu mengikuti aturan-aturan dasar tersebut. Saya bisa percaya dengan aturan-aturan tersebut tetapi bukan berarti saya harus selalu mengikutinya. Atau mungkin saja saya akan melanggarnya.” Dasar jawaban saya bukan karena saya punya aturan-aturan yang lebih benar atau menjadi sok paling pintar. Begini gagasan saya. Saya banyak membaca buku-buku, artikel-artikel, bahkan mengagumi beberapa tokoh-tokoh desain beserta dengan gagasan-gagasan mereka. Tetapi, pada kenyataannya, apapun yang saya baca dan mengerti belum tentu bisa saya terapkan pada konteks sesungguhnya. Mungkin saja ada yang bisa saya terapkan, tetapi tidak sepenuhnya. Contoh lainnya adalah studi kasus atau opini seorang desainer yang menuliskan bahwa sebuah metode atau sebuah elemen user interface tidak baik untuk digunakan. Misalnya, kita sempat dibombardir dengan artikel-artikel yang mengatakan floating action button adalah contoh UX yang buruk. Mungkin saja ya. Mungkin saja tidak. Tetapi, sayang sekali jika ternyata FAB (floating action button) bisa menjadi solusi yang pas untuk produk yang kita desain. Pilihan FAB sudah dicoret sebelum kita bereksperimen dengannya. Sumber gambar Menurut saya, pemikiran kritis dibutuhkan disini untuk mendorong lahirnya sebuah ide atau gagasan baru dalam menjawab persoalan-persoalan yang kita hadapi di dalam proses desain. Bukan hanya mengiya-iyakan saja setiap kebenaran dari teori, ilmu atau aturan-aturan yang kita baca. Tanpa membawanya ke dalam sebuah perenungan panjang, menantangnya jika ada yang tidak sesuai atau memodifikasinya untuk menyesuaikan dengan persoalan dan konteks yang kita hadapi. Logo Snapchat Mari saya membawa Snapchat sebagai contohnya. Bagaimana menurut kalian mengenai usability (kegunaan) dari User Interface di Aplikasi Snapchat? Jelek? Aneh? Faktanya, Snapchat berhasil memikat banyak pengguna (di Amerika, kebanyakan dari mereka adalah millenials) dengan User Interface-nya yang kontroversial. Kita bisa mengatakan, “Apa yang dilakukan Snapchat tidak sesuai dengan aturan atau teori ideal dari buku dan artikel yang kamu baca.” Tetapi…Saya katakan sekali lagi. Mereka berhasil. Apa yang terjadi pada Snapchat? Saya tidak tahu — Saya tidak bisa merumuskan kesimpulan teknis yang bisa kita implementasikan juga pada produk digital yang sedang…. IndonesiaIT 2019, [...], Artikel ini di ambil dari feed medium, untuk pengalaman baca yang lebih baik, silahkan kunjungi situ aslinya. IndonesiaIT - Software Developer Terbaik. Baca Selengkapnya.