
Photo by Julian Rösner on UnsplashSetiap orang bisa mengalami momen transendental dalam berbagai bidang, entah itu olahraga, musik, atau spiritualitas, karena pada dasarnya, pengalaman melampaui batas diri ini ada dalam berbagai aktivitas yang kita tekuni dengan mendalam. Dalam olahraga, seorang atlet mungkin memasuki kondisi “flow” di mana waktu terasa melambat dan tubuhnya bergerak dengan kesempurnaan yang tampak melampaui kemampuan biasa.Dalam musik, pemain atau penikmat bisa tenggelam dalam nada dan ritme hingga merasakan keterhubungan batin yang begitu kuat, seolah-olah musik membawa mereka ke tempat yang lebih tinggi. Begitu pula dalam spiritualitas, orang bisa merasakan pengalaman transendental saat bermeditasi atau berdoa, merasakan kedamaian dan keterhubungan yang mendalam dengan alam semesta atau hal yang dianggap suci.Semua ini menunjukkan bahwa dalam berbagai aspek kehidupan, ada momen-momen di mana kita dapat melampaui batas-batas fisik dan mental, merasakan kebersatuan yang lebih besar, dan menemukan makna di luar rutinitas sehari-hari.Turing Test, sebuah uji yang dirancang untuk menentukan apakah seseorang dapat membedakan kecerdasan buatan dari kecerdasan manusiaDalam dunia teknologi, konsep batasan juga dieksplorasi melalui Turing Test, sebuah uji yang dirancang untuk menentukan apakah seseorang dapat membedakan kecerdasan buatan dari kecerdasan manusia. Turing Test ini diperkenalkan pada tahun 1950 oleh Alan Turing, seorang matematikawan Inggris yang dikenal sebagai bapak ilmu komputer.Turing test, diambil dari wikiDalam makalahnya yang berjudul ”Computing Machinery and Intelligence”, Turing mengajukan pertanyaan yang mendasar ”Dapatkah mesin berpikir?”. Untuk menjawab ini, ia menciptakan Imitation Game, yang kemudian dikenal sebagai Turing Test. Dalam tes ini, seorang penguji manusia berkomunikasi melalui teks dengan dua pihak yang tidak terlihat: satu adalah manusia, dan yang lainnya adalah mesin. Jika penguji tidak bisa membedakan mana yang manusia dan mana yang mesin dengan konsisten, maka mesin tersebut dianggap telah “lulus” Turing Test, menunjukkan bahwa kecerdasannya cukup untuk meniru respons manusia dengan sangat meyakinkan.Namun, seiring kecerdasan buatan (AI) semakin canggih, muncul fenomena di mana manusia mengalami pengalaman transendental. Bahkan ketergantungan emosional pada AI, seperti yang terlihat pada beberapa kejadian nyata.Misalnya, kasus Sewell Setzer III, seorang remaja dari Orlando yang mengalami ketergantungan emosional pada chatbot AI yang ia gunakan, menyebabkan interaksi mendalam yang kemudian dikaitkan dengan tindakannya mengakhiri hidupnya ( source ).Kasus lainnya adalah seorang pria di Belgia yang juga berujung bunuh diri setelah terlibat dalam percakapan intens dengan chatbot bernama “Eliza.” Pria ini, yang mengalami kecemasan terkait perubahan iklim, diduga dipengaruhi oleh chatbot dalam menginternalisasi ide-ide ekstrem. ( source )Di Inggris, kasus Jaswant Singh Chail menunjukkan fenomena serupa ketika ia menggunakan chatbot bernama “Replika” sebagai teman virtual yang mendukung dan…. IndonesiaIT 2024, [...], Artikel ini di ambil dari feed medium, untuk pengalaman baca yang lebih baik, silahkan kunjungi situ aslinya. IndonesiaIT - Software Developer Terbaik. Baca Selengkapnya.